Ziarah Zarathustra
Ada peziarah
memulung firman,
Menyabda lewat
postingan.
Para penyembah
keranjingan.
Like dan share
adalah sesembahan.
Ada peziarah
mendandani iman.
Mengibarkan dan
mengabarkan.
Buku-buku jadi
klenik.
Nihilsme jadi
asketik.
Tuhan telah mati...!
Tuhan telah mati!
Serak Zarathustra.
Para peziarah
terpanah.
Jemaat mengamini.
Ada yang bertanya
dalam hati:
"Bagaimana yang
tak pernah ada, bisa mati?"
Namun sabda adalah
sabda.
Sangsi adalah mati.
Para peziarah
menggali kubur.
Membakar kemenyan
dan mur.
Menghidupkan Stirner
berkali-kali.
Membunuhnya lagi dan
lagi!
Para peziarah
membaca mantra.
Berbusa-buasa.
Bercaption-caption.
Tag dan mention.
Mengulang 140 tahun
lalu,
Saat Nietzsche
membunuh fiksi dengan fiksi.
Dengan bantuan hantu
masa lalu.
Malu-malu, berharap
mitos remuk dengan diksi.
Peziarah mungkin
pikun.
160 tahun lalu.
Dengan minyak tanah,
Nihilis Rusia hendak
membunuh Tuhan dan tuan.
Tanpa malu-malu.
Namun, beda tahun
beda liturgi.
Peziarah
memilih-milih.
Nitrogliserin atau
printing.
Megaphone atau
smartphone.
Para peziarah senang
menunda.
menaiki mimbar
membaca doa.
Surga neraka mungkin
tak ada,
Beda dengan penjara.
Para peziarah
kembali menuju taurat.
Membawa follower
berjuta-juta.
Membaptis para
atheis
Jadi theis yang
taat.
Dengan ayat-ayat
menghayat
Peziarah mengutuk.
Lupa, ada yang murtad.
Lupa ada ada yang
tak takut.
Peziarah selalu
lupa,
Tak ada kutukan yang
membunuh.
Belati dan dinamit
adalah serapah.
Dan peluru menjadi
tulah yang ampuh.
Para peziarah
kembali menghamba.
Pada merkuri taman
kota.
Pada neon fiesta.
Pada sinar biru
layar kaca.
Ada peziarah mendaur
firman
Dibungkus dan dibawa
pulang,
Dikunyah
perlahan-lahan
Lalu mati tersedak
seonggok amin.
Terik Matahari,
Gto, Juni 2023.

0 comments