Antara Aku dan Maut

 


Kepada maut, aku bersungut

Kenapa lama engkau menjemput

Sebab hidup adalah aib

Dari tiap biadab dan para gaib

 

Jika hidup adalah soal nafas

Aku telah lama tewas,

Sebab nafas telah ditebas polusi

Dan udara harus dibeli

 

Jika hidup adalah soal raga

Aku telah lama punah,

Sebab raga bukan milikku lagi,

Sejak ia digadai untuk industri.

 

Jika hidup adalah soal jiwa,

Aku telah lama tiada,

Sebab jiwa telah dilahap kebosanan

Sejak pertama aku mengenal pendidikan.

 

Jika hidup adalah soal bahagia,

Aku telah lama mati,

Sebab bahagia tidak berarti

Di dunia yang digerakkan materi.

 

Kepada maut aku mengumpat, sekali lagi.

Kenapa selalu telat, menepati janji.

Sama seperti hidup yang ingkar,

Penuh janji, tak pernah ditepati.

 

***

 

Kepada aku, maut mengumpat:

Kenapa terlalu takut membunuh hidup?

Dan hina jadi pengecut!

Menyalahkan maut untuk hidup yang terkutuk!

 

Kepada aku, maut bertanya:

Jika hidup hanya sekali,

Kenapa kau mau mati berkali?

Jika bukan pengecut, apa lagi?

 

Kepada aku, maut berkata:

Mati adalah pasti, ia bukan tempat pelarian.

Jika masih sempat, untuk terakhir kalinya: hiduplah!

Kali ini dengan berani!

 

Kepada aku, maut teriak:

Kutuk tak akan membunuh, belati sudah pasti!

Jika tidak sempat, untuk terakhir kalinya: matilah!

Kali ini dengan berani!

 

 

Terrik Matahari,

April 2023


Sumber Gambar: https://keyakamagazine.ul.ac.za/wp-content/uploads/2025/05/csm_World_Suicide_Day_e7e641d388.jpg

You Might Also Like

0 comments